Minggu lalu terlalu giduh bagi sisi keheningan saya. Kesibukan yang di luar rutinitas menghajar fisik maupun emosi saya, terlebih karena melibatkan orang-orang dengan kepentingan-kepentingan yang pekat di luar intensitas biasa. Di tengah-tengah menipisnya benteng kesabaran saya, sim card ponsel saya mati total selama berhari-hari. Tuhan punya cara-cara cerdik untuk menyelamatkan akal sehat saya.
Hari Senin dan Selasa ini saya mengambil cuti. Kopi yang terlalu kental perlu dicairkan dengan air putih. Pertama-tama, tentu saja saya harus pergi ke pusat layanan ponsel saya untuk mengaktifkan kembali chip sim card saya yang mati suri. Rasa was-was saya pun berjawab. Tak berapa lama kemudian, beberapa pesan masuk menanyakan soal pekerjaan. Dari pagi hingga malam. Rasanya ingin memasukkan ponsel saya ke dalam kloset. Saya -- sang pecinta diam -- telah jatuh dalam jenuh.
Senin sore, sekitar jam setengah enam, saya nongkrong di warung mie langganan saya di Taman Griya. Langsung saya order menu favorit: curry udon with raw egg. Ditambah dua potong pangsit goreng, lengkap sudah comfort food yang saya butuhkan. Radio di warung mengumandangkan lagu 'Alone' yang dipopulerkan band Heart. Kampret juga, nih lagu. Alam punya caranya untuk mencandaimu. Lagu 'soulful' itu berbaur dengan gaduh suara cece pemilik warung menggeprak bawang di telenan, suara raungan mesin las dari proyek mini mart di seberang, bising lalu lalang kendaraan bermotor para buruh pulang kerja, dan saya buruh yang lagi libur. Tapi dunia di Taman Griya pada hari Senin pukul setengah enam lebih seperti tidak mengenal libur. Saya mengaktifkan fasilitas perekam dari ponsel saya untuk mengabadikan 1 menit di dunia itu. 1 menit pun waktu membeku, setidaknya dalam khayalan saya.
Sebelum keheningan berlalu dari rengkuhan, saya pencet 'O' di ponsel saya. Saya ingin mendengarkan suara gadis cantik kesayangan saya. Apa kabarnya, Nak? Apa ceritamu? Ibumu rindu. Sebelum keheningan pergi, saya ingin tertidur tanpa bermimpi, membaca 50 halaman pertama dari "The Icarus Deception" karya Seth Godin, dan memikirkan nasib monyet-monyet yang kehilangan hutan tempat tinggal mereka.
Tapi yang datang adalah sebuah pesan bbm. Babe, you are not free yet! Suara-suara gaduh itu belum ingin melepaskan saya. Sekalipun saya menangis meraung, tidak juga mereka diam karena mereka tidak tahu caranya diam. Suatu hari saya tidak punya waktu lagi untuk menunggu. Tapi sekarang sisi diam saya masih merindu.
No comments:
Post a Comment