Sunday, July 28, 2013

Hikayat Para Babi

Sabtu malam kemarin kami berkumpul untuk seorang teman yang sebentar lagi pergi meninggalkan perusahaan. Mungkin karena dia masih ada, kami belum berpikir untuk merasa sedih, apalagi mengharu biru. Martabak telor dan manis, sate ayam dan lontong, pizza, soda, bir, Red Label dan martini menjadi jamuannya. Kartu gaple, kartu remi, monopoli dan badminton mini menjadi permainannya. Mabuk atau sekedar tipsy, sudah pasti. Tapi semuanya aman terkendali dan tidak ada kejadian yang disesali.

Satu per satu dari kami akan pergi. Perusahaan yang menaungi kami ini akan menjadi kenangan manis. Tapi itu nanti. Malam itu kami tertawa, minum, saling canda, menggebrak meja, minum lagi, tertawa lagi. Bebe dalam ocehannya bercerita tentang babi-babi di Medan, kampung halamannya. Seekor di antara mereka - yang tergendut, pernah menciumi pantatnya saat Bebe buang air di kebun. Kami terkekeh membayangkan Bebe lari terbirit-birit. "Kau harus pergi ke Medan! Banyak kali babi-babi di sana, sampai-sampai ayam pun lebih mahal harganya," ocehnya.

Rasa kecewa dan kejenuhan mungkin hanya penyederhanaan dari apa yang menyebabkan kami gelisah dan satu per satu lepas. Persahabatan yang kami jalin adalah konsekwensi indah dari rasa frustrasi kami. Mungkin beberapa di antara kami akan bertahan, sementara yang lainnya terpencar. Tautan emosi pun pada saatnya nanti tersapih.

Malam ini ketika saya menyusun kolase foto-foto yang diambil semalam, saya mulai merasakan kehilangan itu. Tapi siapa yang bisa menebak nasib, karena dia begitu nakal dan kadang khianat. Dan mungkin ini hanya efek hangover, artinya saya tidak benar-benar bersedih. Hikayat para babi akan terjaga di dunia maya dan di antara kepulan asap rokok di sela-sela break time kami.

To a friend, till we meet again!

Wednesday, July 17, 2013

Jika Menjelang Ajal

Hari ini kami melayat ayah seorang kolega. Sesuai adat Bali, keluarga sedang menentukan 'hari baik' untuk mengadakan upacara Ngaben. Kami pun duduk di sebuah balai yang letaknya di dekat balai persemayaman jenazah. Kami disuguhi teh botol, kue kuping gajah, dan rokok.

Lalu kolega kami yang kehilangan ayahnya bercerita tentang saat-saat menjelang kepergian beliau. Dalam keadaan ambang batas, beliau mengigaukan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaannya di sebuah restoran hotel. "Itu cutleries-nya kurang!" dan "Besok jangan lupa, dinner-nya dimajukan jamnya!" Semacam itu, seolah belum yakin calon penggantinya bakal meneruskan tanggung jawab dengan benar. Dulu kakek saya menjelang akhir hayatnya pun demikian. Soal koreksian dan terjemahan mewarnai "tema" racauannya. What matters to someone towards the end of his road will be among his last words.

Kami duduk, manggut-manggut, sambil menikmati suguhan layatan dengan canggung. Mungkin masing-masing dipaksa berpikir. Apa yang akan menjadi bahan kicauan kami saat kami menjelang ajal dalam kondisi serupa nanti. Mungkin yang orang periklanan akan mengigau, "Itu font-nya salah, nggak sesuai color code!" Lalu yang pekerjaannya wedding organizer mungkin akan berkicau, "Pawang hujannya sudah dikontak belum?" "Kampreeeeet!!! Itu namanya croissant, tolol!!!! You know nothing about food!" mungkin jadi bahan ocehan yang sehari-harinya bekerja sebagai chef.

"Bagaimana hotel hari ini?" tanya kolega kami itu. Tetap saja, kondisi kehilangan besar seperti itu tidak bisa menghapuskan rasa tanggung jawabnya terhadap pekerjaannya sebagai manajer reservasi. Sepertinya dia pun sudah 'menemukan' tema racauannya kelak.

People and what they mostly care about. People and their passions!

Saya? Jika kelak saya menjelang ajal dan kesadaran sudah "lompat pagar", apakah yang menjadi sesuatu yang berarti itu?

"Yuk, kita pamitan, gue udah ada janji bikini wax." Ini bukan kata-kata menjelang akhir saya, melainkan ajakan teman saya Pipit untuk menyudahi kunjungan kami. Teh botol sudah tandas, kue kuping gajah sudah meninggalkan plastik pembungkusnya, dan rokok dengan malu-malu sudah kami hisap. Kami peluk kolega kami sembari membisikkan doa di telinganya.

Requiscat in Pace.