Hari Sabtu ini saya libur. Jujur, padahal pengennya masuk kerja. Segitu cintanya ya sama pekerjaan? Pasti bayarannya premium. Soal bayaran, sama sekali tidak. Upah yang saya terima masih jauh dibandingkan para expat itu. Cinta pekerjaan? Beberapa tahun belakangan saya memutuskan hanya akan bermain saja untuk mendapatkan penghasilan. Saya tidak akan bekerja lagi sepanjang sisa hidup saya. Saya hanya akan 'main-main berhadiah'.
Pekerjaan saya yang sekarang memungkinkan saya untuk 'bermain'. Saya melakukan sesuatu yang dengan mudah dan senang hati saya lakukan. Saya menulis. Karena saya sangat jauh dari sempurna, saya senang hati mempelajari apa-apa saja di mana saya tidak jago. Misalnya, dalam pekerjaan saya, saya sedikit banyak perlu tahu teknik-teknik SEO (search engine optimization). Mentor saya yang unyu-unyu mengajarkan pada saya berbagai teknik. Setelah beberapa saat, saya memilah mana yang bisa dengan mudah saya kerjakan dan mana yang memerlukan perjuangan. Setidaknya, seperti saat saya memainkan game Subway Surf, misalnya, beberapa hal menjadi tantangan baru yang dengan 'geram' ingin saya taklukkan supaya naik level. Tapi, saya harus jujur pula, saya memang luar biasa bego dalam beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan saya. Misalnya dalam menggunakan Photoshop untuk bikin artwork. Ya sudah, saya ikhlas saja. Perusahaan harus mempekerjakan orang lain untuk urusan itu. Kalau saya ada waktu, saya pasti akan berguru padanya juga. Biar naik level! ;)
Di hari Sabtu ini, saya sedikit cemburu pada rekan-rekan asyik saya di kantor yang masuk bekerja. Saya membayangkan, karena boss kami cuti hari ini, pasti mereka sedang asyik nongkrong-nongkrong sambil merokok di pojokan workshop Engineering Dept. Pasti mereka sedang saling ledek: mana yang paling hitam, mana yang jarang gosok gigi, sampai mana yang hobi bikin janji-janji kosong. Saya membayangkan sahabat-sahabat seatap perusahaan saya itu -- yang 'lurus', yang gay, yang lesbian, yang dipersatukan oleh jam makan siang dan cigarette break. Saya membayangkan ada di antara teman-teman saya itu yang tengah menjalankan 'misi penyelamatan' -- apapun bentuknya: memberikan training pada staf baru, menenangkan anak buah yang jatuh morilnya, atau membukakan pintu rejeki orang melalui jabatannya.
Sepertinya 'misi penyelamatan' saya untuk orang lain harus menunggu hari Senin. Sekarang saatnya menjalankan misi menyelamatkan kamar pribadi saya dari ambang kehancuran. Mari ganti sprei dan mengepel lantai, lalu mandi dan berdandan cantik. Mau ke mana? Well, you will never know when the Mission Commander will call. Better be ready!
No comments:
Post a Comment