Nggak biasanya saya suka bergabung dalam group chat. Tapi group chat yang satu ini memang paling nyambung isinya. Anggota-anggotanya adalah teman-teman kerja: ada yg chef, ada yang manajer kamar, ada yang desainer grafis, ada yang manajer kawinan, sebagian besar cewek, dan setengah dari total jumlah cewek tersebut lesbian, setengahnya lagi setia menggemari lelaki. Yang membuat group ini asyik ya karena chattingannya nggak ada yang penting dan banyolan-banyolannya cerdas ("edgy", bahasa kerennya!) Pokoknya, bersama group chat ini, yang lagi galau pasti dicela-cela, dan jangan ngimpi dinasihati pakai kata-kata bijak di sini. Justru itu!
Berikut beberapa anggota Geng Kaput. Yang cewek-ceweknya aja ya. Yang cowok, selain cuma sedikit juga agak predictable, so kurang asyik. Hehehe...
- The Unique One - ini chef benci banget dipanggil 'chef'. Ngakunya sih tukang masak, padahal tampilannya kaya desainer. Rambut cepak, kacamata selebar jendela, tato di mana-mana, 'bini'-nya kerja di hotel ujung jalan. Orang Padang yang nggak pernah lihat Jam Gadang ya dia. Rokok: variasi antara Marlboro Light Menthol sampai Djarum Super, tergantung siapa yang duduk di sebelah aja.
- The One with the Taste - Kalau ini penyuka lelaki sejati, single mom keturunan Arab, juara itemnya, kadang-kadang 'missing in action' demi mengurus anak. Sebentar lagi menikah (lagi). Doaken lancar ya dan semoga dijauhken dari godaan brondong-brondong yang bertebaran di tempat kerja! Rokok: Sampoerna A Mild Menthol.
- The Generous One - Satu lagi yang penyuka lelaki, Cokin Pontianak yang susah bilang 'r', yang kalau jalan toketnya berayun ke sana ke mari, another single mom (Jeez, what's wrong with the straight women in this company?) 1 shot tequila sudah cukup membuatnya melakukan hal-hal yang hanya berani saya bayangkan. Rokok: Dunhill Menthol.
- The Big One - Inget dia, inget Gloria di film Madagascar, heavy duty, seheavy bobot tubuhnya. Mama Hippo hanya salah satu dari banyak panggilan sayangnya. Ini cewek Bandung berdarah Batak. Pernah cerita, maaf, pantatnya dikecup babi piaraan opungnya saat boker di kebun. Punya hubungan LDR sama seorang cewek. Rokok: rokok tukang-tukang.
Geng Kaput chatting di saat ada yang inget saja. Yang dibahas antara lain: membatalkan janji karaokean yang udah mateng dibikin seminggu sebelumnya, cross-check gaji udah masuk apa belum, undangan makan bakso balung di pasar, sampai rencana pemilihan Miss Understanding hingga Miss Leading -- nggak ada yang penting lah, kecuali soal gajian itu.
Apapun orientasinya, gila ya gila aja. When a management sucks but you still have friends at work to cling to, you know you will just be all right.
Minggu lalu terlalu giduh bagi sisi keheningan saya. Kesibukan yang di luar rutinitas menghajar fisik maupun emosi saya, terlebih karena melibatkan orang-orang dengan kepentingan-kepentingan yang pekat di luar intensitas biasa. Di tengah-tengah menipisnya benteng kesabaran saya, sim card ponsel saya mati total selama berhari-hari. Tuhan punya cara-cara cerdik untuk menyelamatkan akal sehat saya.
Hari Senin dan Selasa ini saya mengambil cuti. Kopi yang terlalu kental perlu dicairkan dengan air putih. Pertama-tama, tentu saja saya harus pergi ke pusat layanan ponsel saya untuk mengaktifkan kembali chip sim card saya yang mati suri. Rasa was-was saya pun berjawab. Tak berapa lama kemudian, beberapa pesan masuk menanyakan soal pekerjaan. Dari pagi hingga malam. Rasanya ingin memasukkan ponsel saya ke dalam kloset. Saya -- sang pecinta diam -- telah jatuh dalam jenuh.
Senin sore, sekitar jam setengah enam, saya nongkrong di warung mie langganan saya di Taman Griya. Langsung saya order menu favorit: curry udon with raw egg. Ditambah dua potong pangsit goreng, lengkap sudah comfort food yang saya butuhkan. Radio di warung mengumandangkan lagu 'Alone' yang dipopulerkan band Heart. Kampret juga, nih lagu. Alam punya caranya untuk mencandaimu. Lagu 'soulful' itu berbaur dengan gaduh suara cece pemilik warung menggeprak bawang di telenan, suara raungan mesin las dari proyek mini mart di seberang, bising lalu lalang kendaraan bermotor para buruh pulang kerja, dan saya buruh yang lagi libur. Tapi dunia di Taman Griya pada hari Senin pukul setengah enam lebih seperti tidak mengenal libur. Saya mengaktifkan fasilitas perekam dari ponsel saya untuk mengabadikan 1 menit di dunia itu. 1 menit pun waktu membeku, setidaknya dalam khayalan saya.
Sebelum keheningan berlalu dari rengkuhan, saya pencet 'O' di ponsel saya. Saya ingin mendengarkan suara gadis cantik kesayangan saya. Apa kabarnya, Nak? Apa ceritamu? Ibumu rindu. Sebelum keheningan pergi, saya ingin tertidur tanpa bermimpi, membaca 50 halaman pertama dari "The Icarus Deception" karya Seth Godin, dan memikirkan nasib monyet-monyet yang kehilangan hutan tempat tinggal mereka.
Tapi yang datang adalah sebuah pesan bbm. Babe, you are not free yet! Suara-suara gaduh itu belum ingin melepaskan saya. Sekalipun saya menangis meraung, tidak juga mereka diam karena mereka tidak tahu caranya diam. Suatu hari saya tidak punya waktu lagi untuk menunggu. Tapi sekarang sisi diam saya masih merindu.
Hari Sabtu ini saya libur. Jujur, padahal pengennya masuk kerja. Segitu cintanya ya sama pekerjaan? Pasti bayarannya premium. Soal bayaran, sama sekali tidak. Upah yang saya terima masih jauh dibandingkan para expat itu. Cinta pekerjaan? Beberapa tahun belakangan saya memutuskan hanya akan bermain saja untuk mendapatkan penghasilan. Saya tidak akan bekerja lagi sepanjang sisa hidup saya. Saya hanya akan 'main-main berhadiah'.
Pekerjaan saya yang sekarang memungkinkan saya untuk 'bermain'. Saya melakukan sesuatu yang dengan mudah dan senang hati saya lakukan. Saya menulis. Karena saya sangat jauh dari sempurna, saya senang hati mempelajari apa-apa saja di mana saya tidak jago. Misalnya, dalam pekerjaan saya, saya sedikit banyak perlu tahu teknik-teknik SEO (search engine optimization). Mentor saya yang unyu-unyu mengajarkan pada saya berbagai teknik. Setelah beberapa saat, saya memilah mana yang bisa dengan mudah saya kerjakan dan mana yang memerlukan perjuangan. Setidaknya, seperti saat saya memainkan game Subway Surf, misalnya, beberapa hal menjadi tantangan baru yang dengan 'geram' ingin saya taklukkan supaya naik level. Tapi, saya harus jujur pula, saya memang luar biasa bego dalam beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan saya. Misalnya dalam menggunakan Photoshop untuk bikin artwork. Ya sudah, saya ikhlas saja. Perusahaan harus mempekerjakan orang lain untuk urusan itu. Kalau saya ada waktu, saya pasti akan berguru padanya juga. Biar naik level! ;)
Di hari Sabtu ini, saya sedikit cemburu pada rekan-rekan asyik saya di kantor yang masuk bekerja. Saya membayangkan, karena boss kami cuti hari ini, pasti mereka sedang asyik nongkrong-nongkrong sambil merokok di pojokan workshop Engineering Dept. Pasti mereka sedang saling ledek: mana yang paling hitam, mana yang jarang gosok gigi, sampai mana yang hobi bikin janji-janji kosong. Saya membayangkan sahabat-sahabat seatap perusahaan saya itu -- yang 'lurus', yang gay, yang lesbian, yang dipersatukan oleh jam makan siang dan cigarette break. Saya membayangkan ada di antara teman-teman saya itu yang tengah menjalankan 'misi penyelamatan' -- apapun bentuknya: memberikan training pada staf baru, menenangkan anak buah yang jatuh morilnya, atau membukakan pintu rejeki orang melalui jabatannya.
Sepertinya 'misi penyelamatan' saya untuk orang lain harus menunggu hari Senin. Sekarang saatnya menjalankan misi menyelamatkan kamar pribadi saya dari ambang kehancuran. Mari ganti sprei dan mengepel lantai, lalu mandi dan berdandan cantik. Mau ke mana? Well, you will never know when the Mission Commander will call. Better be ready!