Thursday, October 31, 2013

Hikayat Para Babi - 2 (The Reversed)

“Wheresoever you go, go with all your heart.” ― Confucius

Bagaimanapun juga, lebih mending meninggalkan daripada ditinggalkan. Setelah beberapa kali merasakan getir karena satu demi satu sahabat-sahabat saya pergi meninggalkan perusahaan, baik yang secara baik-baik maupun yang kabur, kali ini giliran saya yang melangkahkan kaki (dengan cara baik-baik).

Ketika kita yang meninggalkan, kita tetap tertawa meskipun menghadapi tatapan-tatapan yang meminta kita untuk tetap tinggal. Ketika kita yang meninggalkan, air mata kita dikeringkan oleh kebebasan yang sudah lama dirindu. Mungkin terkesan kejam, atau mungkin memang kejam, tapi ketika kita meninggalkan sesuatu untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita mengirimkan sinyal "Kau pun seharusnya mengambil langkah yang sama; kalau tidak, tanggung sendiri resikonya, dan jangan mengeluh!" Sungguh, ini bukan kesombongan; saya cuma percaya bahwa pekerjaan dan saya harus saling jatuh cinta, atau setidaknya menjadi "f*ck buddies" yang menyenangkan satu sama lain dalam jangka waktu yang (relatif) lama. Excuse my language.


Email selamat tinggal baru saja saya kirim. "Would you change your mind?" tanya seorang kolega di hari terakhir saya bekerja. 

Dari tatapannya saya tahu kali ini bukan saya yang patah hati. Malamnya saya dan beberapa sahabat saya berkumpul untuk merayakan sebuah akhir dan sebuah awal. Alpha dan Omega dalam skala kecil, dengan hadirin para babi sahabat-sahabat saya, baik yang sudah terlebih dahulu "lulus" dari perusahaan maupun para "survivors".


We are bound to walk away or to be the one who is left behind. Mana yang lebih baik, kita tahu. Tapi hidup ini penuh ketidakpastian, dan sering memaksa mereka yang jumawa untuk kecewa. Saya meninggalkan satu perusahaan untuk memulai di perusahaan yang lain. Gaji yang lebih baik jelas, tapi siapa yang menjamin kondisi kerja juga lebih baik? Tidak tahu, karena saya belum memulainya. Saya hanya mengikuti hati saya. Siapa tahu saya beruntung (lagi)? 

Sunday, July 28, 2013

Hikayat Para Babi

Sabtu malam kemarin kami berkumpul untuk seorang teman yang sebentar lagi pergi meninggalkan perusahaan. Mungkin karena dia masih ada, kami belum berpikir untuk merasa sedih, apalagi mengharu biru. Martabak telor dan manis, sate ayam dan lontong, pizza, soda, bir, Red Label dan martini menjadi jamuannya. Kartu gaple, kartu remi, monopoli dan badminton mini menjadi permainannya. Mabuk atau sekedar tipsy, sudah pasti. Tapi semuanya aman terkendali dan tidak ada kejadian yang disesali.

Satu per satu dari kami akan pergi. Perusahaan yang menaungi kami ini akan menjadi kenangan manis. Tapi itu nanti. Malam itu kami tertawa, minum, saling canda, menggebrak meja, minum lagi, tertawa lagi. Bebe dalam ocehannya bercerita tentang babi-babi di Medan, kampung halamannya. Seekor di antara mereka - yang tergendut, pernah menciumi pantatnya saat Bebe buang air di kebun. Kami terkekeh membayangkan Bebe lari terbirit-birit. "Kau harus pergi ke Medan! Banyak kali babi-babi di sana, sampai-sampai ayam pun lebih mahal harganya," ocehnya.

Rasa kecewa dan kejenuhan mungkin hanya penyederhanaan dari apa yang menyebabkan kami gelisah dan satu per satu lepas. Persahabatan yang kami jalin adalah konsekwensi indah dari rasa frustrasi kami. Mungkin beberapa di antara kami akan bertahan, sementara yang lainnya terpencar. Tautan emosi pun pada saatnya nanti tersapih.

Malam ini ketika saya menyusun kolase foto-foto yang diambil semalam, saya mulai merasakan kehilangan itu. Tapi siapa yang bisa menebak nasib, karena dia begitu nakal dan kadang khianat. Dan mungkin ini hanya efek hangover, artinya saya tidak benar-benar bersedih. Hikayat para babi akan terjaga di dunia maya dan di antara kepulan asap rokok di sela-sela break time kami.

To a friend, till we meet again!

Wednesday, July 17, 2013

Jika Menjelang Ajal

Hari ini kami melayat ayah seorang kolega. Sesuai adat Bali, keluarga sedang menentukan 'hari baik' untuk mengadakan upacara Ngaben. Kami pun duduk di sebuah balai yang letaknya di dekat balai persemayaman jenazah. Kami disuguhi teh botol, kue kuping gajah, dan rokok.

Lalu kolega kami yang kehilangan ayahnya bercerita tentang saat-saat menjelang kepergian beliau. Dalam keadaan ambang batas, beliau mengigaukan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaannya di sebuah restoran hotel. "Itu cutleries-nya kurang!" dan "Besok jangan lupa, dinner-nya dimajukan jamnya!" Semacam itu, seolah belum yakin calon penggantinya bakal meneruskan tanggung jawab dengan benar. Dulu kakek saya menjelang akhir hayatnya pun demikian. Soal koreksian dan terjemahan mewarnai "tema" racauannya. What matters to someone towards the end of his road will be among his last words.

Kami duduk, manggut-manggut, sambil menikmati suguhan layatan dengan canggung. Mungkin masing-masing dipaksa berpikir. Apa yang akan menjadi bahan kicauan kami saat kami menjelang ajal dalam kondisi serupa nanti. Mungkin yang orang periklanan akan mengigau, "Itu font-nya salah, nggak sesuai color code!" Lalu yang pekerjaannya wedding organizer mungkin akan berkicau, "Pawang hujannya sudah dikontak belum?" "Kampreeeeet!!! Itu namanya croissant, tolol!!!! You know nothing about food!" mungkin jadi bahan ocehan yang sehari-harinya bekerja sebagai chef.

"Bagaimana hotel hari ini?" tanya kolega kami itu. Tetap saja, kondisi kehilangan besar seperti itu tidak bisa menghapuskan rasa tanggung jawabnya terhadap pekerjaannya sebagai manajer reservasi. Sepertinya dia pun sudah 'menemukan' tema racauannya kelak.

People and what they mostly care about. People and their passions!

Saya? Jika kelak saya menjelang ajal dan kesadaran sudah "lompat pagar", apakah yang menjadi sesuatu yang berarti itu?

"Yuk, kita pamitan, gue udah ada janji bikini wax." Ini bukan kata-kata menjelang akhir saya, melainkan ajakan teman saya Pipit untuk menyudahi kunjungan kami. Teh botol sudah tandas, kue kuping gajah sudah meninggalkan plastik pembungkusnya, dan rokok dengan malu-malu sudah kami hisap. Kami peluk kolega kami sembari membisikkan doa di telinganya.

Requiscat in Pace.

Saturday, June 15, 2013

Berhenti merokok itu gampang

Berhenti merokok itu gampang. Apa? Kau mau protes? Kau mau  bilang hanya obat-obatan dari dokter saja yang sanggup menghentikan kebiasaan merokok? Menurutku, kau rempong!

Sungguh, berhenti merokok itu gampang, kalau saja kau mau. Berhenti merokok tidak bisa dilakukan bertahap. Mengurangi dulu. Tidak bisa begitu. Saya sempat berhenti merokok selama 2 1/2 tahun lamanya. Tidak ada alasan khusus kenapa saya berhenti merokok waktu itu. Saya berhenti karena saya tidak mau lagi.   Kenapa tidak mau lagi? Antara jenuh dengan kepulan asap yang senantiasa mengakrabi tubuh saya, sayang duitnya, pengen penampilan lebih fresh, dan ketidakbutuhan saya akan pembuktian diri melalui merokok.

2 tahun lebih berhenti merokok, lalu saya mulai merokok lagi. Kenapa? Karena saya ingin merokok. Kenapa ingin merokok? Karena saya memasuki komunitas pekerjaan yang baru di mana banyak di antara mereka yang merokok. Merokok menjadi semacam bahasa pemersatu. Jadi saya butuh pengakuan dong? Sedikit banyak memang begitulah. Tapi ada pula alasan lainnya.

Lima tahun belakangan ini saya belajar untuk sedikit demi sedikit melepaskan keterikatan emosi terhadap semua hal yang duniawi. Saya butuh uang dan suka dapat uang banyak, tapi kalau uang saya diambil orang, sisi spiritual saya akan mengatakan bahwa uang tersebut tidak pernah benar-benar milik saya, jadi kenapa saya menangisinya sedemikian rupa. Karena rokok tidak terlalu penting, maka saya mudah saja menghentikannya. Karena rokok tidak penting, maka saya bisa memulainya kapan saya mau.

Sekarang, di saat saya lagi-lagi tidak membutuhkan pengakuan (karena memang sudah diakui! hehehe), dan di saat tubuh saya sudah memberikan peringatannya, saya pun berhenti merokok (lagi). Pulang kerja saya tidak lagi mampir Circle K untuk mampir beli Dunhill Light Menthol, langsung menuju kost-an, istirahat sambil main Candy Crush Saga.

Adiksi itu hanya ada di kepalamu. Adiksi itu semu. Berhenti merokok itu gampang (pun memulainya lagi).

Truth or Truth

Dua pekan lalu ada acara kumpul-kumpul bersama para sahabat di tempat kerja. Grilled seafood, nasi, bubur, caesar salad, bir 3 krat dan 1 set kartu jadi menunya. Atribut profesi dan status sosial sebagian besar kami tinggalkan, semua stress pekerjaan kami lucuti, melebur jadi satu komunitas ketawa ngakak dan ngocol bebas hambatan di bawah 'sedikit' pengaruh alkohol. Asyik.

Dalam satu permainan "Truth or Truth" (tidak ada "Dare" untuk menghindari aksi-aksi kurang senonoh), ternyata pertanyaan yang paling sering muncul adalah menguak seksualitas dari kami masing-masing. Yang lesbian ditanya: Kalau lo doyan cowok, siapa di tempat kerja yang kepingin lo cium? Yang janda ditanya: Kapan terakhir kalinya lo bercinta? Sama siapa? Yang lelaki normal ditanya: Siapa di office yang mau lo tidurin? Gak jauh-jauh seputar ranjang, dan semuanya harus dijawab dengan jujur. Nggak terlalu sulit untuk jujur di bawah pengaruh alkohol. 

Sebelum pulang kami makan semua apa yang tersisa di meja untuk mengembalikan kesadaran. Kami pulang berkonvoi, saling menjaga satu sama lain. Sampai di rumah masing-masing saling cek di WhatsApp. Semuanya happy. Tapi apakah rahasia-rahasia yang sudah terlanjur tumpah juga terjaga keesokan harinya?

Menurutmu?!

Tuesday, May 28, 2013

Meet Geng Kaput

Nggak biasanya saya suka bergabung dalam group chat. Tapi group chat yang satu ini memang paling nyambung isinya. Anggota-anggotanya adalah teman-teman kerja: ada yg chef, ada yang manajer kamar, ada yang desainer grafis, ada yang manajer kawinan, sebagian besar cewek, dan setengah dari total jumlah cewek tersebut lesbian, setengahnya lagi setia menggemari lelaki. Yang membuat group ini asyik ya karena chattingannya nggak ada yang penting dan banyolan-banyolannya cerdas ("edgy", bahasa kerennya!) Pokoknya, bersama group chat ini, yang lagi galau pasti dicela-cela, dan jangan ngimpi dinasihati pakai kata-kata bijak di sini. Justru itu! 

Berikut beberapa anggota Geng Kaput. Yang cewek-ceweknya aja ya. Yang cowok, selain cuma sedikit juga agak predictable, so kurang asyik. Hehehe...
  • The Unique One - ini chef benci banget dipanggil 'chef'. Ngakunya sih tukang masak, padahal tampilannya kaya desainer. Rambut cepak, kacamata selebar jendela, tato di mana-mana, 'bini'-nya kerja di hotel ujung jalan. Orang Padang yang nggak pernah lihat Jam Gadang ya dia. Rokok: variasi antara Marlboro Light Menthol sampai Djarum Super, tergantung siapa yang duduk di sebelah aja.
  • The One with the Taste - Kalau ini penyuka lelaki sejati, single mom keturunan Arab, juara itemnya, kadang-kadang 'missing in action' demi mengurus anak. Sebentar lagi menikah (lagi). Doaken lancar ya dan semoga dijauhken dari godaan brondong-brondong yang bertebaran di tempat kerja! Rokok: Sampoerna A Mild Menthol.
  • The Generous One - Satu lagi yang penyuka lelaki, Cokin Pontianak yang susah bilang 'r', yang kalau jalan toketnya berayun ke sana ke mari, another single mom (Jeez, what's wrong with the straight women in this company?) 1 shot tequila sudah cukup membuatnya melakukan hal-hal yang hanya berani saya bayangkan. Rokok: Dunhill Menthol.
  • The Big One - Inget dia, inget Gloria di film Madagascar, heavy duty, seheavy bobot tubuhnya. Mama Hippo hanya salah satu dari banyak panggilan sayangnya. Ini cewek Bandung berdarah Batak.  Pernah cerita, maaf, pantatnya dikecup babi piaraan opungnya saat boker di kebun. Punya hubungan LDR sama seorang cewek. Rokok: rokok tukang-tukang.
Geng Kaput chatting di saat ada yang inget saja. Yang dibahas antara lain: membatalkan janji karaokean yang udah mateng dibikin seminggu sebelumnya, cross-check gaji udah masuk apa belum, undangan makan bakso balung di pasar, sampai rencana pemilihan Miss Understanding hingga Miss Leading -- nggak ada yang penting lah, kecuali soal gajian itu.

Apapun orientasinya, gila ya gila aja. When a management sucks but you still have friends at work to cling to, you know you will just be all right. 


Monday, May 27, 2013

Satu Sisi Diam

Minggu lalu terlalu giduh bagi sisi keheningan saya. Kesibukan yang di luar rutinitas menghajar fisik maupun emosi saya, terlebih karena melibatkan orang-orang dengan kepentingan-kepentingan yang pekat di luar intensitas biasa. Di tengah-tengah menipisnya benteng kesabaran saya, sim card ponsel saya mati total selama berhari-hari. Tuhan punya cara-cara cerdik untuk menyelamatkan akal sehat saya.

Hari Senin dan Selasa ini saya mengambil cuti. Kopi yang terlalu kental perlu dicairkan dengan air putih. Pertama-tama, tentu saja saya harus pergi ke pusat layanan ponsel saya untuk mengaktifkan kembali chip sim card saya yang mati suri. Rasa was-was saya pun berjawab. Tak berapa lama kemudian, beberapa pesan masuk menanyakan soal pekerjaan. Dari pagi hingga malam. Rasanya ingin memasukkan ponsel saya ke dalam kloset. Saya -- sang pecinta diam -- telah jatuh dalam jenuh.

Senin sore, sekitar jam setengah enam, saya nongkrong di warung mie langganan saya di Taman Griya. Langsung saya order menu favorit: curry udon with raw egg. Ditambah dua potong pangsit goreng, lengkap sudah comfort food yang saya butuhkan. Radio di warung mengumandangkan lagu 'Alone' yang dipopulerkan band Heart. Kampret juga, nih lagu. Alam punya caranya untuk mencandaimu. Lagu 'soulful' itu berbaur dengan gaduh suara cece pemilik warung menggeprak bawang di telenan, suara raungan mesin las dari proyek mini mart di seberang, bising lalu lalang kendaraan bermotor para buruh pulang kerja, dan saya buruh yang lagi libur. Tapi dunia di Taman Griya pada hari Senin pukul setengah enam lebih seperti tidak mengenal libur. Saya mengaktifkan fasilitas perekam dari ponsel saya untuk mengabadikan 1 menit di dunia itu. 1 menit pun waktu membeku, setidaknya dalam khayalan saya.

Sebelum keheningan berlalu dari rengkuhan, saya pencet 'O' di ponsel saya. Saya ingin mendengarkan suara gadis cantik kesayangan saya. Apa kabarnya, Nak? Apa ceritamu? Ibumu rindu. Sebelum keheningan pergi, saya ingin tertidur tanpa bermimpi, membaca 50 halaman pertama dari "The Icarus Deception" karya Seth Godin, dan memikirkan nasib monyet-monyet yang kehilangan hutan tempat tinggal mereka.

Tapi yang datang adalah sebuah pesan bbm. Babe, you are not free yet! Suara-suara gaduh itu belum ingin melepaskan saya. Sekalipun saya menangis meraung, tidak juga mereka diam karena mereka tidak tahu caranya diam. Suatu hari saya tidak punya waktu lagi untuk menunggu. Tapi sekarang sisi diam saya masih merindu.