Sabtu malam kemarin kami berkumpul untuk seorang teman yang sebentar lagi pergi meninggalkan perusahaan. Mungkin karena dia masih ada, kami belum berpikir untuk merasa sedih, apalagi mengharu biru. Martabak telor dan manis, sate ayam dan lontong, pizza, soda, bir, Red Label dan martini menjadi jamuannya. Kartu gaple, kartu remi, monopoli dan badminton mini menjadi permainannya. Mabuk atau sekedar tipsy, sudah pasti. Tapi semuanya aman terkendali dan tidak ada kejadian yang disesali.
Satu per satu dari kami akan pergi. Perusahaan yang menaungi kami ini akan menjadi kenangan manis. Tapi itu nanti. Malam itu kami tertawa, minum, saling canda, menggebrak meja, minum lagi, tertawa lagi. Bebe dalam ocehannya bercerita tentang babi-babi di Medan, kampung halamannya. Seekor di antara mereka - yang tergendut, pernah menciumi pantatnya saat Bebe buang air di kebun. Kami terkekeh membayangkan Bebe lari terbirit-birit. "Kau harus pergi ke Medan! Banyak kali babi-babi di sana, sampai-sampai ayam pun lebih mahal harganya," ocehnya.
Rasa kecewa dan kejenuhan mungkin hanya penyederhanaan dari apa yang menyebabkan kami gelisah dan satu per satu lepas. Persahabatan yang kami jalin adalah konsekwensi indah dari rasa frustrasi kami. Mungkin beberapa di antara kami akan bertahan, sementara yang lainnya terpencar. Tautan emosi pun pada saatnya nanti tersapih.
Malam ini ketika saya menyusun kolase foto-foto yang diambil semalam, saya mulai merasakan kehilangan itu. Tapi siapa yang bisa menebak nasib, karena dia begitu nakal dan kadang khianat. Dan mungkin ini hanya efek hangover, artinya saya tidak benar-benar bersedih. Hikayat para babi akan terjaga di dunia maya dan di antara kepulan asap rokok di sela-sela break time kami.
To a friend, till we meet again!
No comments:
Post a Comment